Thursday, January 8, 2026

Kaum Kurai - sejarah luak Agam 1

Urang Kurai / suku bangsa Kurai adalah suku asli Minangkabau yang mendiami wilayah Kota Bukittinggi, berasal dari pendatang yang membuka pemukiman di lereng Bukit Barisan dan membentuk sistem nagari adat kuat yang terbagi dalam lima jorong, dengan simbol
 adat Batu Kurai Limo Jorong yang mewakili lima suku utama
Lima suku utama itu adalah :  (Guci, Tanjung, Sikumbang, Pisang, Jambak) sebagai pusat musyawarah adat.

Asal-Usul dan Sejarah Awal 

Migrasi: Menurut tambo (sejarah lisan), nenek moyang Urang Kurai adalah kelompok masyarakat yang melakukan migrasi dari daerah darek (dataran tinggi) Minangkabau menuju kawasan Bukit Cangang (Bukittinggi sekarang) karena pertambahan penduduk dan kebutuhan lahan.
  • Pembentukan Nagari: Mereka mendirikan nagari (desa adat) Kurai dan membangun struktur sosial yang kokoh berdasarkan adat Minangkabau.
  • Nama "Kurai": Nama ini diperkirakan berasal dari bahasa Minang yang merujuk pada kelompok atau komunitas tertentu. 
  • Struktur Adat dan Simbolisme Limo Jorong: Nagari Kurai terbagi menjadi lima jorong (wilayah), yaitu Tigo Baleh, Kubang, Sungai Rimbang, dan lainnya, yang menjadi representasi struktur pemerintahan adat.
  • Batu Kurai Limo Jorong: Lima batu besar yang menjadi simbol lima suku utama dan tempat berkumpulnya para penghulu adat untuk bermusyawarah.
  • Lima Suku Utama: Suku Guci, Tanjung, Sikumbang, Pisang, dan Jambak. 
Tambo :
Orang Kurai merupakan salah satu suku dalam etnis Minangkabau yang telah lama mendiami wilayah yang kini dikenal sebagai Kota Bukittinggi. Mereka diyakini berasal dari kelompok masyarakat yang pertama kali menetap di daerah ini dan membangun struktur sosial yang kuat berdasarkan adat dan budaya Minangkabau. Sejarah mencatat bahwa Orang Kurai merupakan bagian dari masyarakat yang hidup dalam sistem nagari, yang menjadi tatanan pemerintahan tradisional Minangkabau.

Struktur Adat dan Suku
Lima Suku: Masyarakat Kurai terstruktur dalam lima suku utama: Guci, Tanjung, Sikumbang, Pisang, dan Jambak, yang menjadi fondasi kepemimpinan adat.
Batu Kurai Limo Jorong: Lima batu besar yang ditanam berfungsi sebagai tempat musyawarah para pemuka adat (datuk) untuk membahas masalah nagari, melambangkan lima suku tersebut. 

Perkembangan dan Peran
Pusat Perdagangan: Kurai menjadi pusat perdagangan, terutama setelah dibangunnya stasiun kereta api pada masa kolonial, dengan munculnya pasar seperti Pasar Ateh.
Perlawanan Kolonial: Orang Kurai aktif berpartisipasi dalam Perang Paderi dan perjuangan kemerdekaan, menunjukkan semangat nasionalisme yang tinggi.
Transformasi: Nagari Kurai kemudian menyatu menjadi bagian dari Kota Bukittinggi, namun identitas budaya dan sejarahnya tetap dijaga. 

Inti Budaya
Nilai-nilai adat seperti musyawarah (mufakat), gotong royong, dan penghormatan terhadap pemimpin adat menjadi ciri khas masyarakat Kurai hingga kini. 

Tuesday, December 23, 2025

Sejarah Pulau Penyengat

Kerajaan Melayu Bintan

Sejarah pulau penyengat

Pulau Penyengat (atau Pulau Penyengat Inderasakti dalam sebutan sumber-sumber sejarah) adalah sebuah pulau kecil di Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, yang berjarak kurang lebih 2 km dari pusat kota. Pulau ini berukuran panjang 2.000 meter dan lebar 850 meter, berjarak lebih kurang 35 km dari Pulau Batam. Pulau ini dapat ditempuh dari pusat Kota Tanjungpinang dengan menggunakan perahu bermotor atau lebih dikenal pompong yang memerlukan waktu tempuh kurang lebih 15 menit.

Pulau Penyengat memiliki sejarah kaya sebagai pusat Kesultanan Riau-Lingga, dikenal sebagai hadiah pernikahan Sultan Mahmud Syah untuk Engku Putri Raja Hamidah pada 1803, menjadi mercusuar budaya Melayu dengan peninggalan seperti Masjid Raya Sultan Riau, makam Raja Ali Haji, dan benteng pertahanan, serta pusat sastra dengan adanya Raja Ali Haji, yang kini menjadi destinasi wisata sejarah dan religi yang kental dengan nuansa tradisional Melayu. 

Asal Nama & Perkembangan Awal

Cerita Rakyat: Nama "Penyengat" berasal dari cerita rakyat tentang serangan serangga berbisa (penyengat) yang menyerang pelaut yang melanggar aturan saat mengambil air, sehingga pulau itu dinamai demikian.

Hadiah Pernikahan: Pulau ini menjadi hadiah dari Sultan Mahmud Syah (Sultan Riau-Lingga) kepada istrinya, Engku Putri Raja Hamidah (Raja Hamidah), pada tahun 1803, menjadikannya simbol kejayaan Melayu. 
Pusat Kejayaan & Sastra Melayu
Pusat Kesultanan: Pulau Penyengat menjadi pusat penting Kesultanan Riau-Lingga, dengan banyak peninggalan seperti istana dan benteng.

Mercusuar Sastra: Pulau ini juga menjadi pusat keunggulan sastra Melayu, terutama karena tokoh besar seperti Raja Ali Haji (penulis Gurindam Dua Belas) dan Engku Putri Raja Hamidah, yang makamnya ada di sana. 

Peninggalan Bersejarah
Masjid Raya Sultan Riau: Masjid megah berwarna kuning yang menjadi ikon pulau, didirikan pada masa Yang Dipertuan Muda VII, Raja Abdurrahman.

Benteng Pertahanan: Benteng Bukit Kursi menjadi saksi bisu perjuangan Melayu, menawarkan pemandangan laut yang indah.
Istana & Makam: Terdapat peninggalan istana (seperti Istana Marhum Kantor) dan makam Raja Ali Haji serta Engku Putri yang menjadi situs ziarah penting. 

Perang Saudara tahta Johor

Awalnya pulau ini hanya sebuah tempat persinggahan armada-armada pelayaran yang melayari perairan Pulau Bintan, Selat Malaka dan sekitarnya. Namun pada tahun 1719 ketika meletus perang saudara memperebutkan tahta Kesultanan Johor antara keturunan Sultan Mahmud Syah yang dipimpin putranya Raja Kecil melawan keturunan Sultan Abdul Jalil Riayatsyah yang dipimpin Tengku Sulaiman.

Pulau Penyengat mulai dijadikan kubu pertahanan oleh Raja Kecil yang memindahkan pusat pemerintahannya dari Kota Tinggi (Johor) ke Riau di Hulu Sungai Carang (Pulau Bintan). Perang saudara itu dimenangkan oleh Tengku Sulaiman dan saudaranya yang dibantu oleh lima orang bangsawan Bugis Luwu, yaitu Daeng Perani, Daeng Marewah, Daeng Chelak, Daeng Kemasi dan Daeng Menambun. Yang mana seterusnya Tengku Sulaiman mendirikan kerajaan baru yaitu Kerajaan Johor-Riau-Lingga, pada 4 Oktober 1722. Sedangkan Raja Kecil menyingkir ke Siak dan seterusnya mendirikan Kesultanan Siak.

KERAJAN MALAYU RIAU - LINGGA


Kerajaan Riau Lingga
Kerajaan Riau Lingga adalah sebuah kerajaan Islam di Indonesia yang pernah berdiri dari sekitar tahun 1828 M hingga 1911 M. Kerajaan ini mencapai puncak keemasannya pada masa pemerintahan Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah ll Yang Dipertuan Besar Riau Lingga ke lV, memerintah dari tahun 1857 hingga 1883 M.Wilayahnya meliputi Provinsi Kepulauan Riau sekarang, tetapi tidak termasuk Provinsi Riau yang didominasi oleh Kerajaan Siak yang sebelumnya telah memisahkan diri dari Kerajaan Johor-Riau .

Kerajaan Riau Lingga memiliki peran penting dalam perkembangan bahasa Melayu hingga menjadi bentuknya sekarang sebagai bahasa Indonesia. Pada masa Kerajaan Riau Lingga, bahasa Melayu menjadi bahasa standar yang sejajar dengan bahasa-bahasa besar lain di dunia, yang kaya dengan sastra dan memiliki kamus ekabahasa. Tokoh besar di belakang perkembangan pesat bahasa Melayu ini adalah Raja Ali Haji, seorang pujangga dan sejarawan keturunan Melayu-Bugis.
Sebelumnya Riau Lingga merupakan wilayah dari Kerajaan Johor-Riau atau juga dikenal Kerajaan Johor-Pahang-Riau-Lingga yang berdiri sekitar tahun 1528-1824 M yang merupakan penerusan dari Kerajaan Malaka, terbentuknya Kerajaan Riau Lingga diakibatkan perebutan kekuasaan antara kedua putra Raja Johor-Riau dan pengaruh Belanda-Inggris, pada tahun 1824 Belanda dan Inggris menyetujui Perjanjian Traktat London, yang isinya bahwa semenanjung Malaya merupakan dalam pengaruh Inggris dan Sumatra serta pulau-pulau disekitarnya merupakan dalam pengaruh Belanda. Hal ini memperparah situasi Kerajaan Johor-Riau, dan akhirnya pada tahun 1824 Kerajaan Johor-Riau terbagi menjadi 2 Kerajaan, Kerajaan Johor dengan raja pertamanya Tengku Hussain bergelar Sultan Hussain Syah (1819-1835) putra tertua Sultan Mahmud Syah lll Yang Dipertuan Besar Johor-Pahang-Riau-Lingga ke XVl (1761-1812), sedangkan Sultan Abdul Rahman Muazzam Syah Yang Dipertuan besar Johor Pahang Riau Lingga ke XVll yang merupakan adik Tengku Hussain, menjadi Sultan pertama Kerajaan Riau Lingga bergelar Sultan Abdul Rahman Muazzam Syah Yang Dipertuan Besar Riau Lingga ke l (1812-1832).

Sejarah Asal Mula Nama Daik dan Lingga

Asal mula nama Daik.

          Disuatu masa berdatanglah para perantau dari Mandir, Pangkalan Lama dan Jambi ke Daik. Sebelum sampai di Daik, Mereka singgah disalah satu pulau yang bernama Mepar (dahulu pulau Mepar bernama pulau Lepa dan lama kelamaan menjadi Mepar). Kemudian menyusuri sungai disekitar pulau Mepar, dalam penyusuran tersebut mereka menancapkan pancang sebagai tanda bahwa mereka telah menyusuri sungai yang bersangkutan. Tanda-tanda itulah yang akhirnya membuat sungai bersangkutan disebut sebagai sungai Tanda. Dari sungai ini mereka melanjutkan perjalanan dan sampailah disebuah tempat yang tanahnya datar, airnya jernih mengalir dari air gunung, ditempat ini mereka sangat terkesan, menurut mereka tempat ini sangat baik. Kesan inilah yang kemudian menjadi nama sungai dan daerah sekitarnya, dengan perkataan lain sungai dan daerah sekitarnya diberi nama Baik. Akan tetapi nama itu lama-kelamaan berubah menjadi Daik, tidak diketahui kapan kata Baik berubah menjadi Daik, mungkin karena sejak seseorang salah dengar sehingga kata Baik menjadi Daik.

Asal mula nama pulau Lingga.

          W.P. Groeneveledt dalam bukunya yang berjudul History Notes on Indonesian and Malay, menyebutkan bahwa nama Lingga berasal dari kata Ling yang berarti Naga dan Ge yang berarti Gigi, tidak jauh berbeda dengan nama yang diberikan oleh para perantau Cina. Menurut para perantau Cina, sebelum mereka sampai di Daik, mereka melihat sebuah gunung (gunung Daik) yang bentuk puncaknya seperti Gigi Naga atau Tanduk Naga yang bercabang dua,(konon, dahulu bercabang tiga) yang mereka sebut Lengge. Istilah Lingga juga terkait dalam pengertian keagamaan agama Hindu, dikarenakan gunung Daik bercabang tiga, dan salah satu puncak gunung menyerupai perlambang phallus, puncak tertinggi dinamakan gunung Daik, terendah disebut gunung Cindai dan puncak yang tengah disebut gunung pejantan.

 Jauh sebelum Daik Lingga dijadikan pusat Kerajaan Johor-Riau oleh Sultan Mahmud Syah lll / Yang dipertuan Besar Johor-Pahang-Riau-Lingga ke XVl dan pusat Kerajaan Riau Lingga oleh Sultan Abdul Rahman Muazzam Syah /Yang Dipertuan Besar Johor-Pahang-Riau-Lingga ke XVll yang juga merupakan Yang Dipertuan Besar Riau Lingga ke l setelah Kerajaan Johor-Riau dipecah menjadi dua yaitu Kerajaan johor dan Kerajaan Riau Lingga pada tahun 1824, pada mulanya daerah Lingga dan sekitarnya didiami oleh Orang Suku Laut, dengan dipimpin oleh kepala sukunya yang disebut Batin.

Kemudian pada akhir abad ke-18 datang Datuk Mata Kuning yang merupakan putra dari Datuk Mata Merah yang berasal dari Pangkalan Lama Jambi datang ke Lingga.Selama beberapa tahun Datuk Mata Kuning Memegang kekuasaan di wilayah Lingga dengan gelar Datuk Megat Kuning.

Pada tahun 1787, Sultan Mahmud Syah lll /Yang Dipertuan Besar Johor-Pahang-Riau-Lingga ke XVl memindahkan pusat Kerajaan Johor-Riau dari Hulu Riau Bintan dengan membawa sebanyak 200 kapal perahu layar pindah ke Daik Lingga dan tempat kedudukan Yamtuan Muda juga dipindahkan dari Hulu Riau Bintan ke pulau Penyengat pada tahun yang sama. Sejak saat itu Datuk Megat Kuning menyatakan sebagai hamba Sultan mahmud Syah lll, kemudian Datuk Megat Kuning diangkat menjadi Orang Kaya Temenggung yang bertugas menjaga keamanan perairan Lingga dan bertempat tinggal di pulau Mepar, di pulau Mepar dibangun benteng lengkap dengan meriam-meriam sebagai salah satu benteng pertahanan Kerajaan. Sebelum itu Datuk Kaya Temenggung tinggal di Semarong Daik (Mentok) dan kemudian pindah ke Kopet Daik (Melukap) baru setelah itu pindah ke pulau Mepar dan menetap disana.

SEJARAH KERAJAAN DAIK - LINGGA - JOHOR - RIAU

Daik Lingga pernah menjadi pusat Kerajaan Johor-Riau pada tahun 1787 hingga 1824 M dan juga merupakan pusat kerajaan Riau Lingga pada tahun 1824 hingga 1903 sedangkan pulau Penyengat sebagai pusat pemerintahan Yang Dipertuan Muda Riau dari tahun 1787 dan pada tahun 1903 hingga 1911 sebagai pusat Kerajaan Riau Lingga

Sultan-Sultan Kerajaan Johor-Riau dan Kerajaan Riau Lingga yang memerintah di Riau-Lingga, sebagai berikut :

1. Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah l /Raja Sulaiman/Yang Dipertuan Besar Johor-Pahang-Riau-Lingga ke Xlll (1722-1760).

Mangkat pada tahun 1760 digelar Marhum Batangan. 

2. Sultan Abdul Jalil Muazzam Syah /Raja Abdul Jalil/Yang Dipertuan Besar Johor-Pahang-Riau-Lingga ke XlV (1760-1761).

Memerintah di Hulu Riau, Bintan.

3. Sultan Ahmad Riayat Syah / Raja Ahmad/Sultan Yang Dipertuan Besar Johor-Pahang-Riau-Lingga ke XV (1761).

Mangkat pada tahun 1761 digelar Marhum Tengah.

4. Sultan Mahmud Syah lll /Raja Mahmud/ Yang Dipertuan Besar Johor-Pahang-Riau-Lingga ke XVl (1761-1812).

5. Sultan Abdul Rahman Muazzam Syah / Tengku Abdul Rahman/ Yang Dipertuan besar Johor-Pahang-Riau-Lingga ke XVll /Yang Dipertuan Besar Riau Lingga ke I (1812-1832).

Merupakan Sultan Yang Dipertuan Besar Johor-Pahang-Riau-Lingga ke XVll dan Sultan Yang Dipertuan Besar Riau Lingga ke l setelah kerajaan Johor-Riau dibagi menjadi dua pada tahun 1824,Mangkat dan dimakamkan di Bukit Cengkeh, Daik Lingga.

6. Sultan Muhammad Muazzam Syah /Tengku Besar Muhammad/Yang Dipertuan Besar Riau Lingga ke ll (1832-1835).

Putra Sultan Abdul Rahman Muazzam Syah dengan permaisurinya Raja Fatimah, memerintah di Daik Lingga dan dimakamkan di Bukit Cengkeh, digelar Marhum Keraton.

7. Sultan Mahmud Muzaffar Syah /Tengku Mahmud/Yang Dipertuan Besar Riau Lingga ke lll (1835-1857).

Putra Sultan Muhammad Muazzam Syah ll, memerintah di Daik Lingga dan pada tahun 1857 Sultan Mahmud Muzaffar Syah dimakzulkan oleh Belanda, Tengku Mahmud meninggalkan Lingga dan akhirnya mangkat di Pahang, digelar Marhum Mangkat di Pahang.

8. Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah ll /Yang Dipertuan Besar Riau Lingga ke lV (1857-1883).

Putra Almarhum Sultan Abdul Rahman Muazzam Syah dengan permaisurinya Cek Nora (keturunan Belanda). Memerintah di Daik Lingga, mangkat dan dimakamkan di Bukit Cengkeh, Daik Lingga.

9. Sultanah Tengku Embung Fatimah (1883-1885)

Putri Sultan Mahmud Muzaffar Syah

10. Sultan Abdul Rahman Muazzam Syah ll /Raja Abdul Rahman/Yang Dipertuan Besar Riau Lingga ke Vl (1885-1911).

Putra Tengku Embung Fatimah dengan suaminya Raja Muhammad Yusuf Al-Ahmadi Yamtuan Muda Riau ke X, adalah Sultan terakhir Kerajaan Riau Lingga.

Memerintah di Daik Lingga pada tahun 1885-1900, dan memindahkan pusat Kerajaan ke pulau Penyengat pada Tahun 1900-1911.

Pada tanggal 3 Febuari 1911 Sultan Abdul Rahman Muazzam Syah ll dimakzulkan oleh Residen Belanda (in absentia) di Tanjung Pinang.

Selanjutnya Raja Abdul Rahman beserta keluarga Diraja pindah ke Singapura.

Yang Dipertuan Muda (Yamtuan) yang memerintah di Riau-Lingga, sebagai berikut :

1. Yamtuan 1 Daeng Meraweh (1772-1728).

Memerintah di Tanjung Pinang, Bintan. Dilantik oleh Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah /Sultan Yang Dipertuan Besar Johor-Pahang-Riau-Lingga ke Xlll, digelar Marhum Sungai Baru.

2. Yamtuan ll Daeng Celak (1728-1748).

Memerintah di Tanjung Pinang, Bintan. Dilantik oleh Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah /Sultan Yang Dipertuan Besar Johor-Pahang-Riau-Lingga ke Xlll, mangkat di Kota Riau.

3. Yamtuan lll Daeng Kamboja Ibni Daeng Perani (1748-1777).

Memerintah di Tanjung Pinang, Bintan. Dilantik oleh Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah /Sultan Yang Dipertuan Besar Johor-Pahang-Riau-Lingga ke Xlll, digelar Marhum Janggut.

4. Yamtuan lV Raja Haji Fisabilillah Ibni Daeng Celak (1777-1784).
Pemerintahan dilaksanakan oleh Yamtuan Muda lll, Daeng Kamboja dan Raja Haji Fisabilillah/ Engku Kelana. Sultan Mahmud Syah memerintah di Hulu Riau, Bintan. Pada tahun 1787 memindahkan pusat Kerajaan Johor-Pahang-Riau-Lingga ke Daik Lingga dan Mangkat pada tahun 1812, dimakamkan di belakang Mesjid Jami’ Daik Lingga (Mesjid Jami’ Sultan Lingga) dan digelar Marhum Mesjid.
mewakili Sultan Mahmud Syah lll /Sultan yang Dipertuan BesarJohor-Pahang-Riau-Lingga ke XVl di Hulu Riau, digelar Marhum Teluk ketapang (sekarang, Bukit Bendera)

5. Yamtuan V Raja Ali Ibni Daeng Kamboja (1784-1806).

Memerintah di pulau Penyengat. Dilantik oleh Sultan Mahmud Syah lll /Sultan yang Dipertuan Johor-Pahang-Riau-Lingga ke XVl, digelar Marhum Pulau Boyan.

6. Yamtuan Vl Raja Ja’ffar Ibnu Raja Haji (1806-1831).

Memerintah di pulau Penyengat. Dilantik oleh Sultan Mahmud Syah lll/ Sultan yang Dipertuan Johor-Pahang-Riau-Lingga ke XVl, digelar Marhum Mangkat di Daik Lingga.

7. Yamtuan Vll Raja Abdul Rahman Ibni Raja Haji (1831-1844).

Memerintah di pulau Penyengat, mangkat di Penyengat. Dilantik oleh Sultan Mahmud Syah lll/ Yang Dipertuan Besar Johor-Pahang-Riau-Lingga ke XVl.

8. Yamtuan Vlll Raja Ali Ibni Raja Haji (1844-1857).

Memerintah di pulau Penyengat, mangkat di Penyengat. Dilantik oleh Sultan Mahmud Muzaffar Syah /Yang Dipertuan Besar Riau Lingga ke lll.

9. Yamtuan lX Raja Haji Abdullah (1857-1858).

Memerintah di pulau Penyengat. Dilantik oleh Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah ll /Yang Dipertuan Besar Riau Lingga ke lV.

10. Yamtuan X Raja Muhammad Yusuf Al-Ahmadi (1858-1899).

Memerintah di pulau Penyengat, digelar Marhum Damnah, mangkat di Daik Lingga. Dilantik oleh Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah ll /Yang Dipertuan Besar Riau Lingga ke lV.

Lembaga Yamtuan Muda dihapuskan oleh Sultan Riau Lingga yang berakhir tahun 1900 yaitu oleh Sultan Abdul Rahman Muazzam Syah ll /Yang Dipertuan Besar Riau Lingga ke Vl, yang memindahkan pusat kerajaan Riau Lingga dari Daik ke pulau Penyengat dan menjadikan pulau Penyengat sebagai pusat Kerajaan Riau Lingga pada tahun 1903-1911.

Sejarah Kabupaten Bintan

Kabupaten Bintan sebelumnya merupakan Kabupaten Kepulauan Riau. Kabupaten Kepulauan Riau telah dikenal beberapa abad yang silam tidak hanya di nusantara tetapi juga di manca-negara. Wilayahnya mempunyai ciri khas terdiri dari ribuan pulau besar dan kecil yang tersebar di Laut Cina Selatan, karena itulah julukan Kepulauan “Segantang Lada” sangat tepat untuk menggambarkan betapa banyaknya pulau yang ada di daerah ini.

Pada kurun waktu 1722-1911, terdapat dua Kerajaan Melayu yang berkuasa dan berdaulat yaitu Kerajaan Riau Lingga yang pusat kerajaannya di Daik dan Kerajaan Melayu Riau di Pulau Bintan.
Jauh sebelum ditandatanganinya Treaty of London, kedua Kerajaan Melayu tersebut dilebur menjadi satu sehingga menjadi semakin kuat. Wilayah kekuasa-annya pun tidak hanya terbatas di Kepulauan Riau saja, tetapi telah meliputi daerah Johor dan Malaka (Malaysia), Singapura dan sebagian kecil wilayah Indragiri Hilir. Pusat kerajaannya terletak di Pulau Penyengat dan menjadi terkenal di Nusantara dan kawasan Semenanjung Malaka.

Setelah Sultan Riau meninggal pada tahun 1911, Pemerintah Hindia Belanda menempatkan amir-amirnya sebagai Districh Thoarden untuk daerah yang besar dan Onder Districh Thoarden untuk daerah yang agak kecil.
Pemerintah Hindia Belanda akhirnya menyatukan wilayah Riau Lingga dengan Indragiri untuk dijadikan sebuah keresidenan yang dibagi menjadi dua Afdelling yaitu :

1. Afdelling Tanjungpinang yang meliputi Kepulauan Riau–Lingga, Indragiri Hilir dan Kateman yang berkedudukan di Tanjungpinang dan sebagai penguasa ditunjuk seorang Residen.
2. Afdelling Indragiri yang berkedudukan di Rengat dan diperintah oleh Asisten Residen (dibawah) perintah Residen. Pada 1940 Keresidenan ini dijadikan Residente Riau dengan dicantumkan Afdelling Bengkalis (Sumatera Timur) dan sebelum tahun 1945–1949 berdasarkan Besluit Gubernur General Hindia Belanda tanggal 17 Juli 1947 No. 9 dibentuk daerah Zelf Bestur (daerah Riau).

Berdasarkan surat Keputusan de-legasi Republik Indonesia, Provinsi Su-matera Tengah tanggal 18 Mei 1950 No.9/ Deprt. menggabungkan diri ke dalam Republik Indonesia dan Kepulauan Riau diberi status daerah Otonom Tingkat II yang dikepalai oleh Bupati sebagai kepala daerah dengan membawahi empat kewedanan sebagai berikut:
1. Kewedanan Tanjungpinang meliputi wilayah kecamatan Bintan Selatan (termasuk kecamatan Bintan Timur, Galang, Tanjungpinang Barat dan Tanjungpinang Timur sekarang).
2. Kewedanan Karimun meliputi wila-yah Kecamatan Karimun, Kundur dan Moro.
3. Kewedanan Lingga meliputi wilayah Kecamatan Lingga, Singkep dan Senayang.
4. Kewedanan Pulau Tujuh meliputi wilayah Kecamatan Jemaja, Siantan, Midai, Serasan, Tambelan, Bunguran Barat dan Bunguran Timur.

Kemudian berdasarkan Surat Keputusan No. 26/K/1965 dengan mem-pedomani Instruksi Gubernur Riau tanggal 10 Februari 1964 No. 524/A/1964 dan Instruksi No. 16/V/1964 dan Surat Keputusan Gubernur Riau tanggal 9 Agustus 1964 No. UP/ 247/5/1965, tanggal 15 Nopember 1965 No. UP/256 /5/1965 menetapkan terhitung mulai 1 Januari 1966 semua daerah Administratif kewedanaan dalam Kabupaten Kepulauan Riau di hapuskan.
Pada tahun 1983, sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 31 tahun 1983, telah dibentuk Kota Administratif Tan-jungpinang yang membawahi 2 (dua) kecamatan yaitu Kecamatan Tanjungpinang Barat dan Kecamatan Tanjungpinang Timur, dan pada tahun yang sama sesuai dengan peraturan pemerintah No. 34 tahun 1983 telah pula dibentuk Kotamadya Batam. Dengan adanya pengembangan wilayah tersebut, maka Batam tidak lagi menjadi bagian Kabupaten Kepulauan Riau.
Berdasarkan Undang-Undang No. 53 tahun 1999 dan UU No. 13 tahun 2000, Kabupaten Kepulauan Riau dimekarkan menjadi 3 kabupaten yang terdiri dari : Kabupaten Kepulauan Riau, Kabupaten Karimun dan Kabupaten Natuna. Wilayah kabupaten Kepulauan Riau hanya meliputi 9 kecamatan, yaitu : Singkep, Lingga, Senayang, Teluk Bintan, Bintan Utara, Bintan Timur, Tambelan, Tanjungpinang Barat dan Tanjungpinang Timur. Kecamatan Teluk Bintan merupakan hasil pemekaran dari Kecamatan Galang. Sebahagian wilayah Galang dicakup oleh Kota Batam. Kecamatan Teluk Bintan terdiri dari 5 desa yaitu Pangkil, Pengujan, Penaga, Tembeling dan Bintan Buyu.

Kemudian dengan dikeluarkannya Undang-Undang No. 5 tahun 2001, Kota Administratif Tanjungpinang berubah menjadi Kota Tanjungpinang yang statusnya sama dengan kabupaten
Sejalan dengan perubahan administrasi wilayah pada akhir tahun 2003, maka dilakukan pemekaran kecamatan yaitu Kecamatan Bintan Utara menjadi Kecamatan Teluk Sebong dan Bintan Utara. Kecamatan Lingga menjadi Kecamatan Lingga Utara dan Lingga. Pada akhir tahun 2003 dibentuk Kabupaten Lingga sesuai dengan UU No. 31/2003, maka dengan demikian wilayah Kabupaten Kepulauan Riau meliputi 6 Kecamatan yaitu Bintan Utara, Bintan Timur, Teluk Bintan, Gunung Kijang, Teluk Sebong dan Tambelan. Dan berdasarkan PP No. 5 Tahun 2006 tanggal 23 Februari 2006, Kabupaten Kepulauan Riau berubah nama menjadi Kabupaten Bintan.


Thursday, August 28, 2025

KERAJAAN - KERAJAAN DI MALAYSIA

KERAJAAN - KERAJAAN TUA DI MALAYSIA

1. Kerajaan Kedah Tua (Kedah Zaman Awal)

Berdasarkan catatan India, Cina, dan Arab, Kedah Tua (kadang disebut Kataha atau Kadaram) sudah ada sekitar abad ke-2 Masehi.

Ia berkembang sebagai pusat perdagangan dan pernah dipengaruhi agama Hindu-Buddha.

Lokasi: kawasan sekitar Lembah Bujang (Kedah sekarang).

Dikenal juga sebagai salah satu pelabuhan penting dalam jaringan perdagangan India–Cina.

---

2. Langkasuka

Berdasarkan catatan Cina (abad ke-5), ada kerajaan bernama Langkasuka di pantai timur Semenanjung, dipercayai di sekitar Pattani – Kelantan sekarang.

Kerajaan ini juga beragama Hindu-Buddha pada awalnya, kemudian mendapat pengaruh Islam.

---

3. Gangga Nagara

Berpusat di kawasan Perak (Dinding & Manjung).

Disebut dalam sumber Tamil & Arab sekitar abad ke-6 hingga abad ke-11.

---

4. Kerajaan Islam Awal

Islam mulai berpengaruh kuat pada abad ke-12–13.

Salah satu kerajaan Islam awal di Semenanjung ialah Kedah (sekitar abad ke-12 masuk Islam, diperintah Sultan Muzaffar Shah I).

Kemudian muncul Kesultanan Melaka (abad ke-15) yang menjadi kerajaan Melayu-Islam paling terkenal dan berpengaruh di Asia Tenggara.

---


Tuesday, July 15, 2025

SANG ARYA CAKRADARA

CAKRADARA AYAH HAYAM WURUK - RAJA MAJAPAHIT
Sri Kertawardhana (atau *Cakradhara*)

Adalah ayah dari Hayam Wuruk dan suami dari Tribhuwana Tunggadewi, penguasa ketiga Kerajaan Majapahit. Ia memainkan peran penting dalam stabilitas politik Majapahit meskipun tidak mendominasi seperti Gajah Mada atau Tribhuwana.  
Cakradara adalah kakak dari Arya Damar atau lebih di kenal Aditya warman ( raja malaya pura / pagaruyung )
Dan tertulis dalam babad arya Tabanan yg merupakan adiknya sendiri yg menjadi raja di Bali
Profil Sri Kertawardhana
Nama lain : Kertawardhana, Cakradhara atau Bhra Hyang Wekasing Sukha,
Gelar Bhre Tumapel (sebelum menjadi suami Tribhuwana).  

Asal : Keluarga bangsawan tinggi Majapahit,  keturunan dari garis Singhasari anak darai Adwaya Brahman atau Kebo Anabrang
- Peran : Sebagai suami ratu, ia lebih banyak berperan sebagai pendukung kekuasaan Tribhuwana dan Hayam Wuruk.  

Peran dalam Pemerintahan Majapahit
1. Suami Tribhuwana Tunggadewi
   - Tribhuwana adalah putri Raden Wijaya dan Gayatri Rajapatni,  yang menjadi ratu setelah ibunya memilih hidup sebagai bhiksuni.  
   - Pernikahan mereka memperkuat legitimasi dinasti Majapahit.  
   - Sri Kertawardhana tidak memegang kekuasaan langsung tetapi membantu dalam urusan kerajaan.  

2. Ayah Hayam Wuruk
   - Ia dan Tribhuwana memiliki dua anak: Hayam Wuruk (calon raja) dan Dyah Nertaja (ibu dari Wikramawardhana, penerus Hayam Wuruk).  
   - Diduga terlibat dalam pendidikan Hayam Wuruk, terutama dalam tradisi keagamaan dan kebudayaan.  

3. Masa Pemerintahan Hayam Wuruk
   - Setelah Hayam Wuruk naik takhta (1350 M), Sri Kertawardhana tidak banyak disebut dalam catatan sejarah, tetapi diperkirakan tetap menjadi penasihat kerajaan.  
   - Ia wafat sebelum Hayam Wuruk, tetapi tahun pastinya tidak tercatat jelas.  

Kontroversi & Mitos
- Beberapa sumber (seperti Pararaton) menyebutkan bahwa Sri Kertawardhana adalah penguasa Tumapel sebelum menikah dengan Tribhuwana, tetapi tidak ada bukti kuat bahwa ia memerintah secara independen.  
- Dalam Nagarakretagama, ia disebut dengan penghormatan tetapi tidak dijelaskan secara rinci peran politiknya.  

Warisan
- Garis keturunannya melalui Hayam Wuruk dan Dyah Nertaja menjadi penerus takhta Majapahit.  
- Ia adalah bagian dari jaringan keluarga yang menjaga stabilitas Majapahit di era keemasannya.  

Saturday, July 12, 2025

ORANG PARIAMAN


Sejarah Kabupaten Padang Pariaman dan Pariaman.
Berasal dsri Luak Tanah Datar.
Penduduk Pariaman umumnya turun dari Luhak Tanahdata. Selain itu juga dari Luhak Agam pada bagian Utara. Sedangkan bagian sebelah Selatan justru turun dari Solok. Meski demikian, tetap saja mereka yang turun dari Luhak Tanahdata menjadi pemegang utama roda pemerintah.

Sejarah Kandang Ampek
 Abdul Kiram dan Yeyen Kiram dalam bukunya Raja-Raja Minangkabau Dalam Lintasan Sejarah (2003;51-52) mencatat, nenek moyang yang mula-mula turun dari Luhak Tanahdata ada sebanyak empat orang Penghulu beserta rombongannya. Yakni Datuk Rajo Angek, Datuk Palimo Kayo, Datuk Bandaro Basa, dan Datuk Palimo Labih. Amanah dari Yang Dipertuan Pagaruyung, di mana jika rombongan berada pada sebuah tempat yang tidak diketahui namanya, maka segeralah diberi nama dan tanda.

Akhirnya tempat itu diberi nama Kandangampek. Karena rombongan mereka berjumlah empat. Tidak lama kemudian, di tempat yang sama datang lagi satu rombongan dipimpin Datuk Makhudum Sabatang Panjang. Kedua rombongan bergabung dan sepakat bersama-sama turun ke bawah menuju arah Barat. Selanjutnya, rombongan menemukan sebuah tempat yang agak tinggi, tapi belum diketahui namanya. Salah seorang anggota rombongan, menanamkan sebatang pohon sebagai pembatas antara Luhak dan Rantau. Di tempat itu rombongan sepakat menamakan Kayutanam. Daerah inilah yang membatasi Luhak (darek) dengan Rantau. Berbatas dengan Bukit Barisan yang melingkari Padangpanjang.

Sejarah 2 X 11 Enam Lingkung
Perjalanan kelima orang Penghulu tersebut diteruskan sampai ke Pakandangan. Di sini mereka membangun perkampungan. Tidak lama kemudian datang lagi ke Pakandangan enam orang Penghulu dari Tanahdata, yakni Datuk Simarajo, Datuk Rangkayo Basa, Datuk Rajo Mangkuto, Datuk Rajo Bagindo dan Datuk Mangkuto Sati.

Keenamnya bergabung dengan rombongan yang datang sebelumnya. Luas perkampungan diperluas sampai ke Sicincin. Sebagai penghormatan, khusus lima orang Penghulu yang datang pertama, mereka ditempatkan di tengah-tengah kampung. Sedangkan enam Penghulu yang datang belakangan, melingkari tempat kediaman lima Penghulu tersebut. Daerah ini akhirnya bernama Anamlingkung. Kedatangan dua gelombang, untuk mengingatnya dijadikan Kecamatan 2 X 11 Anam-lingkuang dengan ibukota Sicincin. Kini kecamatan ini sudah dimekarkan menjadi tiga kecamatan. Yakni, Anamlingkung, 2 X 11 Anamlingkuang Sicincin dan 2 X 11 Kayutanam. Dari daerah-daerah ini, mereka terus menyusuri hingga ke pantai Pariaman.

Kisah penyebaran melalui Malalak
Ada juga yang menyebutkan penduduk Pariaman dari Tanahdata turun melalui Malalak. Di Malalak rombongan terbagi dua kelompok. Satu kelompok langsung menuju Pariaman, satu kelompok lagi menuju Kampungdalam. Kuatnya hubungan kekeluargaan dengan Malalak ini dapat dilihat dari adanya kunjungan dari orang yang berada di Pariaman, tapi berasal dari Malalak, kepada keluarga asal di Malalak.
Suku bangsa Varia ( Varia Men )
Pariaman yang terletak di pinggir pantai, mudah dikunjungi pelaut dari berbagai negeri, menyebabkan mudahnya hubungan dengan daerah lain. Sehingga masyarakatnya pun mudah menerima perubahan, baik sosial, politik maupun agama.

Tak heran sebagai wilayah yang berada di pinggir pantai dan di singgahi oleh berbagai pedagang, Pariaman belakangan dihuni tak hanya dari keturunan Minangkabau dari daerah darek. 
Di Pariaman terdapat pula keturunan keling (kaliang). Dimana orang Keling ini datang dari India Selatan atau disebut Gujarat dan salah satu suku bangsa Varia. Dengan ciri khas warna kulitnya lebih hitam, maka disebut saja kaliang. Sehingga jika ada anggota keluarga rang Pariaman, sering dikatakan kulitnya hitam kaliang. 
Suku Bangsa Varia telah ada dalam kurun waktu yang lama datang dengan beberapa dekade. 
Yg pertama bersamaan dengan terkenalnya pelabuhan Barus dengan Kampernya yg di kirim ke mesir. Dan hasil buah pinang yg melimpah juga rempah rempahnya menarik minat pedagang dari India selatan datang.
Selain berdagang mereka juga menyebarkan agama islam.

Dekade ke 2 adalah saat penyebaran islam dan seiringan dengan masuknya pengaruh Turki di aceh yg membawa banyak suku bangsa Varia khususnya yang laki laki atau di kenal sebagai Varia Men.

Dekade ke 3 adalah pada masa inggris tiba di kawasan bengkulu atau dulu disebut bengkulen, yg akhirnya suku bangsa Varia yg di bawa oleh Stampord Rafles sebagai pekerja kemudian menetap di kawasan pariaman sekarang. dimana dulu adalah wilayah kekuasaan kerajaan vasal ( bawahan ) pagaruyung yg bernama kerajaan Kurai Taji.

Dari sini dominasi suku bangsa Varia terlihat dari bahasa, adat dan warna kulit, sehingga banyak penduduk asal luak nan tigo menyebut dengan sebutan PARIAMAN ikut dialek minang pengaruh bahasa hindia belanda
Bahkan sebelum proklamasi Indonesia 17 Agustus 1945, di Pariaman juga banyak terdapat keturuan Tionghoa (Cina). Bukti peninggalan keturunan Tionghoa yang tidak bisa dibantah adalah kuburan keturunan Tionghoa di Toboh Palabah dan nama daerah Kampungcino.

Sedangkan bangsa penjajah (Belanda, Inggris dan Jepang), yang pernah bermukim di Pariaman, hingga kini tak diketemukan lagi buktinya. Penulis hanya pernah mendapatkan informasi di sekitar Kampung Perak ada kuburan Belanda. Namun kini sudah menjadi areal perkantoran, yakni Kantor Kesbang Linmas Kabupaten Padangpariaman.

Meski penduduk Pariaman sudah bercampur, tapi tetap memakai adat Minangkabau dalam kesehariannya. Hanya saja, sebagai daerah rantau, di Pariaman tidak diketemukan rumah gadang seperti di daerah darek. Rumah gadangnya tidak bergonjong sebagaimana rumah gadang di daerah darek seperti tanduk kerbau. 

Adat tradisi pariaman
Adat Pariaman adalah adat istiadat yang berlaku di wilayah Pariaman, Sumatera Barat, yang kaya akan tradisi dan nilai-nilai budaya. Salah satu tradisi yang paling dikenal adalah bajapuik, sebuah prosesi dalam pernikahan adat Minangkabau di Pariaman, di mana pihak perempuan memberikan sejumlah uang atau harta benda kepada pihak laki-laki sebagai bentuk penghormatan. 

1. Pernikahan Adat Pariaman:
Bajapuik:
Tradisi ini bukan berarti "membeli" pengantin laki-laki, tetapi lebih kepada menjemput dan menghormati pengantin laki-laki sebagai simbol penghargaan dan mengangkat derajatnya. 

Uang Japuik:
Jumlah uang japuik biasanya ditentukan berdasarkan kesepakatan dan mempertimbangkan status sosial, pendidikan, dan pekerjaan pengantin laki-laki. 

Prosesi Pernikahan:
Rangkaian acara pernikahan adat Pariaman meliputi maanta asok (meninjau), tuka cincin/pasang tando (tunangan), babaur (mencari hari pernikahan), acara pernikahan, dan manjalang ka rumah mintuo (berkunjung ke rumah mertua). 

Manduo Jalang:
Setelah pesta pernikahan, mempelai perempuan biasanya akan menginap beberapa hari di rumah mertua. 
2. Makna dan Nilai Budaya:
Penghormatan:
Tradisi bajapuik bukan untuk merendahkan laki-laki, tetapi justru untuk memuliakan dan meninggikan derajatnya. 

Syarat Adat:
Bajapuik menjadi bagian tak terpisahkan dari adat Minangkabau di Pariaman dan dianggap sebagai bagian penting dari pernikahan. 
Musyawarah:
Pelaksanaan adat, termasuk tradisi bajapuik, dilakukan melalui musyawarah dan kesepakatan bersama antara pihak keluarga. 

3. Tradisi Lainnya:
Malamang: Memasak lemang, makanan tradisional khas Pariaman.
Kesenian Tambua Tasa: Kesenian tradisional yang menggunakan alat musik tambua dan tasa. 

Friday, July 11, 2025

AIRPORT MINANGKABAU

Bandar Udara Internasional Minangkabau dibangun sebagai pengganti Bandar Udara Tabing yang sudah tidak lagi memenuhi persyaratan dari segi keselamatan penerbangan setelah 34 tahun lamanya digunakan.

Pembangunan bandara ini mulai dilakukan pada tahun 2001 dengan menghabiskan biaya sekitar 9,4 miliar Yen, dengan 10% di antaranya (sekitar 97,6 miliar Rupiah) merupakan pinjaman lunak dari Japan Bank International Coorporation (JICB). Konstruksinya melibatkan kontraktor Shimizu dan Marubeni J.O. dari Jepang, dan Adhi Karya dari Indonesia.
Bandar Udara Internasional Minangkabau berdiri di atas tanah seluas 4,27 km² dengan landasan pacu sepanjang 3.000 meter dengan lebar 45 meter.

Penerbangan domestik dan internasional dilayani oleh terminal seluas 20.568 m², yang berkapasitas sekitar 2,3 juta penumpang setiap tahunnya. Pada tahun 2017, bandara ini akan diperluas dua tahap hingga mencapai 49.000 m². Dengan pengembangan itu nantinya akan bisa menampung sekitar 5,9 juta penumpang per tahun.
Bandar udara ini adalah bandara kedua di Indonesia setelah Soekarno-Hatta yang pembangunannya dilakukan dari awal. Rencana induk pembangunan bandara ini dilakukan dalam tiga tahap, tahap keduanya dimulai pada tahun 2010. Setelah semua tahap selesai pengerjaannya, panjang landasan bandara ini akan diperpanjang menjadi 3.600 meter, yang juga dilengkapi dengan landasan penghubung (taxiway) paralel di sepanjang landasan.

Bandar Udara Internasional Minangkabau mulai dibangun pada tahun 2002 dan dioperasikan secara penuh pada 22 Juli 2005 menggantikan Bandar Udara Tabing.BIM merupakan bandara satu-satunya di dunia yang memakai nama etnis.

Pada tahun 2006, bandar udara ini ditetapkan oleh Kementerian Agama sebagai tempat embarkasi dan debarkasi haji untuk wilayah Provinsi Sumatera Barat, Bengkulu dan sebagian Jambi. Sejak 1 Januari 2012, jam operasional bandara ini diperpanjang oleh PT Angkasa Pura II hingga pukul 00.00 WIB, yang sebelumnya hanya dibuka hingga pukul 21.00 WIB.

SEJARAH KERAJAAN JAMBU LIPO

SEJARAH KERAJAAN JAMBU LIPO Kerajaan Jambu Lipo adalah salah satu kerajaan rantau dari Kerajaan Pagaruyung yang berdiri sekitar ...