Sejarah pulau penyengat
Pulau Penyengat (atau Pulau Penyengat Inderasakti dalam sebutan sumber-sumber sejarah) adalah sebuah pulau kecil di Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, yang berjarak kurang lebih 2 km dari pusat kota. Pulau ini berukuran panjang 2.000 meter dan lebar 850 meter, berjarak lebih kurang 35 km dari Pulau Batam. Pulau ini dapat ditempuh dari pusat Kota Tanjungpinang dengan menggunakan perahu bermotor atau lebih dikenal pompong yang memerlukan waktu tempuh kurang lebih 15 menit.
Pulau Penyengat memiliki sejarah kaya sebagai pusat Kesultanan Riau-Lingga, dikenal sebagai hadiah pernikahan Sultan Mahmud Syah untuk Engku Putri Raja Hamidah pada 1803, menjadi mercusuar budaya Melayu dengan peninggalan seperti Masjid Raya Sultan Riau, makam Raja Ali Haji, dan benteng pertahanan, serta pusat sastra dengan adanya Raja Ali Haji, yang kini menjadi destinasi wisata sejarah dan religi yang kental dengan nuansa tradisional Melayu.
Asal Nama & Perkembangan Awal
Cerita Rakyat: Nama "Penyengat" berasal dari cerita rakyat tentang serangan serangga berbisa (penyengat) yang menyerang pelaut yang melanggar aturan saat mengambil air, sehingga pulau itu dinamai demikian.
Hadiah Pernikahan: Pulau ini menjadi hadiah dari Sultan Mahmud Syah (Sultan Riau-Lingga) kepada istrinya, Engku Putri Raja Hamidah (Raja Hamidah), pada tahun 1803, menjadikannya simbol kejayaan Melayu.
Pusat Kejayaan & Sastra Melayu
Pusat Kesultanan: Pulau Penyengat menjadi pusat penting Kesultanan Riau-Lingga, dengan banyak peninggalan seperti istana dan benteng.
Mercusuar Sastra: Pulau ini juga menjadi pusat keunggulan sastra Melayu, terutama karena tokoh besar seperti Raja Ali Haji (penulis Gurindam Dua Belas) dan Engku Putri Raja Hamidah, yang makamnya ada di sana.
Peninggalan Bersejarah
Masjid Raya Sultan Riau: Masjid megah berwarna kuning yang menjadi ikon pulau, didirikan pada masa Yang Dipertuan Muda VII, Raja Abdurrahman.
Benteng Pertahanan: Benteng Bukit Kursi menjadi saksi bisu perjuangan Melayu, menawarkan pemandangan laut yang indah.
Istana & Makam: Terdapat peninggalan istana (seperti Istana Marhum Kantor) dan makam Raja Ali Haji serta Engku Putri yang menjadi situs ziarah penting.
Perang Saudara tahta Johor
Awalnya pulau ini hanya sebuah tempat persinggahan armada-armada pelayaran yang melayari perairan Pulau Bintan, Selat Malaka dan sekitarnya. Namun pada tahun 1719 ketika meletus perang saudara memperebutkan tahta Kesultanan Johor antara keturunan Sultan Mahmud Syah yang dipimpin putranya Raja Kecil melawan keturunan Sultan Abdul Jalil Riayatsyah yang dipimpin Tengku Sulaiman.
Pulau Penyengat mulai dijadikan kubu pertahanan oleh Raja Kecil yang memindahkan pusat pemerintahannya dari Kota Tinggi (Johor) ke Riau di Hulu Sungai Carang (Pulau Bintan). Perang saudara itu dimenangkan oleh Tengku Sulaiman dan saudaranya yang dibantu oleh lima orang bangsawan Bugis Luwu, yaitu Daeng Perani, Daeng Marewah, Daeng Chelak, Daeng Kemasi dan Daeng Menambun. Yang mana seterusnya Tengku Sulaiman mendirikan kerajaan baru yaitu Kerajaan Johor-Riau-Lingga, pada 4 Oktober 1722. Sedangkan Raja Kecil menyingkir ke Siak dan seterusnya mendirikan Kesultanan Siak.
No comments:
Post a Comment